Bus Pengantin Terbalik, Satu Tewas

Share:
Bus Cenderawasih antar rombongan linto dari Jeunieb ke Lhokseumawe terbalik di Alue Syung, Desa Puuk Peulimbang Bireuen. SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS 
BIREUEN - Bus berbadan ramping, Cenderawasih BL 7328 Z yang ditumpangi rombongan pengantar pengantin pria (intat linto) dari Desa Cot Geulumpang Tunong, Jeunieb, tujuan ke Paloh Punti, Kota Lhokseumawe, terbalik di kawasan Peulimbang, Bireuen, Kamis (12/10) sekitar pukul 10.00 WIB.


Kernet bus itu, Muzakkir (22), warga Desa Babah Krueng, Kecamatan Ulee Gle, Pidie Jaya (Pijay), meninggal dalam insiden itu, sedangkan 29 penumpang lainnya, termasuk sopir, mengalami luka berat dan ringan.

Lokasi terbaliknya bus itu hanya berjarak 10 meter sebelah timur Alue Syung. Di lokasi itu pada 5 April 2015 satu bus Cenderawasih yang mengantar rombongan dara baro (pengantin wanita) tabrakan dengan truk tronton disebabkan kepulan asap tebal dari pembakaran jerami.

Informasi yang diperoleh Serambi, bus yang ditumpangi warga Desa Cot Geulumpang Tunong itu dipenuhi penumpang. Karena banyak penumpang bus yang berhenti di SPBU Jeunieb dan sebagiannya lagi naik carry, maka jumlah anggota rombongan yang berada di dalam bus Cenderawasih hanya 29 orang.

Setiba di kawasan itu, menurut saksi mata, ada satu sepeda motor (sepmor) yang jatuh di badan jalan, sehingga bus yang disopiri Heri (30), warga Ulee Gle, Pidie Jaya, berupaya menghindari sepmor tersebut.

Tapi nahas, saat mengelak bus tersebut menabrak tembok saluran di depannya dan terbalik dengan posisi ban ke atas dan depannya menghadap ke Jeunieb lagi.

Seluruh penumpang mengalami luka-luka dan segera dievakuasi ke Puskesmas Peulimbang yang berjarak 1 km arah timur lokasi kejadian. Korban pun segera ditangani paramedis.

Salah seorang korban diketahui meninggal dunia, yakni Muzakkir (22), sedangkan yang lainnya mengalami luka berat dan ringan. Para korban, ada yang diantar naik pikap, sepeda motor, maupun roda dua ke Puskesmas Peulimbang.

Saking banyaknya korban, tenaga medis Puskesmas Peulimbang harus menghubungi rekan kerja dari puskesmas lain untuk membantu mengevakuasi korban dari Puskesmas Peulimbang ke IGD RSUD Bireuen.

Ratusan warga memadati Puskesmas Peulimbang karena ingin melihat kondisi korban yang ditangani di tempat itu. Evakuasi ke IGD Bireuen baru berakhir sekitar pukul 12.00 WIB kemarin.

Belasan anggota Satlantas Polres Bireuen, Pospol Peulimbang, dan anggota Koramil Jeunieb ikut membantu mengevakuasi korban dan mengatur arus lalu lintas yang sempat macet hampir satu jam.

Pecahan kaca mobil, barang bawaan intat linto mulai dari kelapa muda, tebu, pisang, termasuk kue bawaan dan lainnya berhamburan di badan jalan.

Nurul Aflah selaku dokter piket di Puskesmas Peulimbang bersama tenaga medis lainnya kepada Serambi mengatakan, satu korban yang meninggal sudah divisum, sedangkan yang luka berat dan ringan setelah ditangani di puskesmas segera dievakuasi ke Bireuen.

“Ada korban yang patah tangan, luka di kaki, kepala, dan bagian tubuh lainnya. Mereka dikirim ke Bireuen untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Nurul Aflah.

Amatan Serambi, ada sejumlah ambulans yang membantu evakuasi korban ke Bireuen, di antaranya dari Jeunieb, Pandrah, Peudada maupun Bireuen.

Di dalam bus yang terbalik kemarin, linto baro bernama Anwar (29) duluan berangkat naik mobil Toyota Avanza karena akan dilangsungkan pernikahan di rumah pengantin wanita bernama Asnaini di Desa Paloh Punti, Kota Lhokseumawe. Hal itu disampaikan Nurdin (34), warga Desa Cot Geulumpang Jeunieb, selaku abang kandung linto baro kepada Serambi kemarin.

Disebutkan, mereka berangkat sekitar pukul 09.30 WIB naik sejumlah kendaraan. Sedangkan rombongan linto baro menggunakan dua unit Avanza yang duluan berangkat, kemudian ada yang menumpang angkutan L-300 dan bus Cenderawasih.

Bus Cenderawasih, kata Nurdin, penuh dengan penumpang, termasuk dirinya. Setiba di SPBU Jeunieb sejumlah penumpang turun dan dialihkan ke mobil carry. “Karena penuh penumpang saya turun dan naik carry di SPBU Jeunieb. Lalu, bus Cenderawasih berangkat. Nah, beberapa saat kemudian saya dapat informasi bahwa bus terbalik,” ujarnya.

Seluruh korban kecelakaan lalu lintas di Peulimbang Bireuen itu terjamin dalam lingkup pelayanan dan sudah diterbitkan surat jaminannya.

Hal itu disampaikan Pimpinan Jasa Raharja Perwakilan Lhokseumawe, T Rahmudin SP melalui Pj Kantor Pelayanan Jasa Raharja Bireuen, Zulkarnaini kepada Serambi kemarin.

Maksimal biaya perawatan ditanggulangi sebesar Rp 20 juta per orang dan untuk santunan meninggal atas nama Muzakir telah diserahkan santunan kepada ahli warisnya, yakni ibu kandung korban bernama Jannati Usman di rumah korban, Desa Babah Krueng, Bandar Dua, Pidie Jaya. (yus)



No comments